Aku, kamu & listrik

Blog ini ko jadi sepi sih?? adminnya payah...
Wkwkwkwk, kadang2 ada beberapa anak tpm yang bilang gitu, padahal yang bertanggung jawab atas blog ini setidaknya ada 5-6 orang, tapi ko gak ada yang update berita yah?? salah siapakah?? (disini saya juga termasuk salah satu dari 5-6 oknum tersebut >.<)

So sebelum membuat postingan baru, mo minta maap dulu atas kekosongan yang terjadi di blog ini selama beberapa minggu terakhir. Maklum, lingkungan baru, aktivitas pekerjaan, juga (kadang) cewek tetangga yang hobi pake hotpants bisa membuat hal-hal lain terlupakan, termasuk di antaranya mengupdate blog ;p

So, mengenai postingan kali ini...gw pengin bicara tentang,,,hmm apa yah? listrik aja deh... Gw gak tau deh dengan kondisi kantor lo2 pada, tapi rata2 pake generator sih, jadi gak masalah kalo tiba-tiba daerah kantor lo padam..nah gw?? kantor gw gak pake generator..ada sih, tapi kecil, gak cukup buat masok listrik satu kantor...jadi kalo listrik mati biasanya generator dinyalakan tapi hanya untuk bagian pemasaran, sedangkan bagian redaksi (termasuk didalamnya gw), listrik dibiarkan mati (gak adil banget kan?!! T.T)

Frekuensi mati listrik sebulan bisa 2-3 kali, baik itu karena pemadaman ataupun trafo mati. Jelas, mati listrik menyebabkan efisiensi kerja berkurang, dimana efeknya juga berlanjut ke produktivitas (gak perlu gw jelasin panjang lebar juga dah pada tau kan? lulusan teknik semua ini...). Apalagi bagi cowok yang menghargai arti sebuah ketepatan waktu seperti gw ini (no komplein yeee...), matinya listrik di kantor kadang2 membuat senewen juga. Perlu diperhatikan, kalian mungkin bekerja di perusahaan besar, dengan generator yang keren2, tapi bagi UKM2 menengah, kita ambil permisalan usaha dibidang fotokopi, jelas mati lampu bisa bikin pemiliknya stres, dan gak mungkin juga pemilik memasang generator, bisa2 bukannya untung yang didapat, malah rugi yang ada (kecuali kalo mungkin usaha fotokopinya dah bercabang-cabang kali ya...). Beberapa waktu lalu listrik di daerah gw mati lagi, dan ditengah2 kegelapan malam, bersinarkan hanya terang bulan ditemani bintang2, gw berjalan pulang dengan sebuah pertanyaan yang menggantung di otak gw: sapa ya yang patut disalahkan?? pemerintah? PLN? ato terlebih dari itu semua,,yaitu kita sendiri??

Sering diberitakan dikoran kalo alasan yang dipakai PLN yaitu karena mereka mengalami defisit akibat tidak berimbangnya pasokan yang dimiliki PLN dengan permintaan energi listrik oleh konsumen (masyarakat). Kurangnya pasokan batu bara pada sumber-sumber energi pemasok listrik di pulau jawa seperti Sumber Energi Cilacap serta kerusakan teknis pada sumber energi lain juga dijadikan alasan PLN untuk melakukan pemadaman listrik (electrical shutdown) tersebut secara berkala, bergilir, dan sepihak pada bulan-bulan terakhir ini. Sebuah alasan yang cukup aneh saya kira mengingat produksi batubara di Indonesia pada tahun 2007 mencapai 203 juta ton dari prediksi awal sebesar 196 juta ton dan prediksi tahun ini sebesar 236 juta ton dengan DMO (Domestic Market Obligation) - pemenuhan kebutuhan dalam negeri - sebesar 28.6%. Anggep aja angka tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan PLN dalam memasok kebutuhan listrik dalam negeri. Pertanyaannya: kenapa pasokan batubara masih kurang? padahal produksi batubara di tahun 2007 saja melampaui target yang diinginkan? Gw jadi ingat omongan salah seorang kenalan, dimana dia bilang kalo sebenarnya simpel, PLN sering menunggak pembayaran (hal ini pernah gw liat di berita juga sih..) sehingga para produsen batubara menganggap kalo PLN termasuk perusahaan yang kurang kredibel, menyebabkan kontrak juga terganggu (dalam artian mungkin produsen males2an memasok batubara ke PLN karena PLN sendiri hobi nunggak). gak tau deh bener ato kagak, gw bukan expert dalam bidang ini soalnya...

Ok, selesai deh soal pemerintah ma PLN...sekarang lanjut dulu ke permasalahan berikutnya. Bagaimana dengan peran kita dalam masalah listrik? penggunaan teknologi serba praktis, beserta program seperti listrik masuk desa menyebabkan pengguna listrik bertambah, menyebabkan pasokan listrik dari PLN juga harus ditambah (jika dilihat dari sisi ini pemerintah dan PLN tidak langsung disalahkan juga sih..), yang berarti semakin sering kita menggunakan listrik, maka semakin besar pasokan listrik yang dibutuhkan untuk menyokong kebutuhan kita tersebut. rite, brader?

Gw inget jaman gw masih ngekos di salah satu kosan paling eksklusif di Jakarta (baca-Sungai Bambu Regency-red) beserta 3 temen gw, ketika hari sudah malam a.k.a mo tidur, gw punya kebiasaan mematikan lampu di ruang makan. Pernah ketika gw matiin, salah satu temen protes,"eh ganteng, napa sih lampu mesti dimatiin? kan gelap..."

Hmm, coba bayangin deh, anggap aja lampu 5 watt kita nyalain semalaman, mungkin terasa kecil (5 watt lagi...), tapi bagaimana kalau 1 RT melakukan hal yang sama, belum termasuk jika 1 kota melakukan hal yang sama. Itupun baru lampu, ada masalah yang sering kita hiraukan, yaitu posisi standby pada alat elektronik kita. Pasti pernah kan lo2 semua ketika mematikan TV cukup dengan menekan posisi off pada remote, lalu ditinggal, tanpa mencabut kabel. Mungkin terkesan kecil (lha wong cuma standby, paling porsi listrik yang dibutuhkan gak seberapa). Tahukah anda, menurut wikipedia, posisi standby menghabiskan posisi listrik sebesar 5-15% pada rumah tangga di negara-negara lain? Apalagi posisi standby biasanya dibiarkana berjam-jam, adaptor yang memiliki lampu LED, ketika masih tersambung pada stop-kontak, meskipun sudah tidak digunakan, tapi tetap membutuhkan listrik untuk menjaga agar lampu LED nyala. Penggunaan elektronik pemanas (baca-magic jar, microwave, setrika, heater-red ) juga membutuhkan porsi listrik yang cukup besar, belum ketika tidak digunakan perangkat2 tersebut dibiarkan tercolok pada sambungan listrik.

Well, seperti yang gw bilang tadi...Semakin sering kita menggunakan listrik, maka semakin besar pasokan listrik yang dibutuhkan untuk menyokong kebutuhan kita tersebut. Dan berlaku juga sebaliknya, so sebaiknya dijadikan artikel diatas dijadikan bahan renungan lagi, ato kalo lebih bagus, dipraktekkan bagi yang sudah membacanya. Tanpa gw tulis lagi sudah tau kan apa yang harus rekan-rekan sekalian lakukan? Sekali lagi gw sebutin kalo gw bukan expert dalam bidang ini, hanya ingin mengutarakan pendapat saja :)

Segitu dulu artikel kali ini, maap kalo bahasan gak berbobot (apalagi gak diberikan solusi, emang sengaja dibiarkan menggantung soalnya ;p). Ini lebih dari sekedar artikel ringan untuk mengisi kekosongan blog kita. Syukur2 kalo tulisan yang gw bikin bisa memberikan efek nyata pada kehidupan nyata sehari-hari, but tetep aja ko, pilihan ada pada diri kita masing-masing ;p

referensi :

http://indonesiaenergywatch.com/info-info/tahun-2009-proyeksi-produksi-batubara-236-juta-ton.html

http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/10/tgl/29/time/141759/idnews/846014/idkanal/4

http://henryussa.wordpress.com/2008/07/09/krisis-energi-listrik-di-indonesia-krisis-mental-pejabat-penguasa-dan-pengusaha/

Buku berjudul "Kopi Merah Putih"



dibuat dengan kondisi sadar sepenuhnya oleh aku, seorang penulis yang masih tenggelam dalam mimpi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Klo mau isi comment,untuk kolom beri komentar sebagai :
di pilih : Name/URL ya,
Name : isikan nama anda
URL : Kosongkan aja